0
Thumbs Up
Thumbs Down

Video Games Baik untuk Kecerdasan Anak, Fakta atau Mitos?

okezone
okezone - Tue, 12 Feb 2019 12:29
Dilihat: 235
Video Games Baik untuk Kecerdasan Anak, Fakta atau Mitos?

GENERASI Z sudah mulai terpapar gadget sejak usia anak-anak. Bahkan, gadget menjadi alat asuh yang menjanjikan untuk sebagian orangtua yang memiliki anak sulit makan. Mungkin Anda salah satu di antaranya?

Penggunaan ponsel pintar pada anak-anak menurut beberapa referensi berakibat pada kemampuan daya tangkap otak si anak. Tidak hanya itu, ketika anak sudah kecanduan, bukan lagi masalah mata yang diserang, tapi juga perilaku dan psikisnya dan ini dianggap cukup berbahaya.

Namun, bagaimana pun ponsel pintar kini memegang peranan penting dalam kehidupan. Teknologi ini tidak bisa dihilangkan. Hal yang bisa dilakukan adalah membatasi dan mengawasi penggunaannya di kalangan anak-anak dan remaja, supaya paparan negatifnya tidak terlalu memberi dampak besar.

Di sisi lain, beberapa ilmuwan juga kini sudah mulai menciptakan aplikasi khusus untuk meningkatkan IQ anak dengan beberapa fitur yang ramah anak. Kebenaran akan statement meningkatkan kecerdasan intelektual ini tapinya perlu dibahas lebih jauh.

Menurut para peneliti di University of Oxford dalam analisis studi tentang anak-anak dan lama waktu menatap layar yang baru-baru ini diterbitkan, mereka menemukan sejumlah kesimpulan yang bertentangan tentang bagaimana game mempengaruhi kebahagiaan, kinerja akademis, dan kesejahteraan hidup anak.

Baca Juga:

Intip Seksinya Nadira Diva dalam Balutan Sport Bra, Ototnya Ngeri Banget!

5 Pegulat Seksi WWE, Rasanya Rela kalau Di SmackDown Sama Mereka

Mengutip dari New York Post, Selasa (12/2/2019), Dimitri Christakis, pemimpin redaksi JAMA Pediatrics dan direktur Pusat Kesehatan, Perilaku, dan Pengembangan Anak di Seattle Children's Research Institute, mengatakan, perbedaan individu dalam penggunaan ponsel dampaknya pun beragam. Terlebih anak-anak itu sulit digeneralisasi. Plus, dunia digital berubah begitu cepat sehingga studi jangka panjang sulit dilakukan.

"Yang benar adalah, berbicara sebagai ilmuwan, kita tidak dapat mengimbangi perkembangan teknologi ini. Kami terus berjuang untuk mengejar ketinggalan," kata Dimitri.

Dia menyatakan, banyak orangtua yang terhubung dengan ponsel anaknya. Ini penting supaya si anak tahu betul kapan dia bisa menikmati fasilitas tersebut dan adanya pembatasan juga diharapkan agar si anak tidak sembarang dalam menggunakan ponsel.

Kemudian, bicara games, sekarang ini semakin banyak permainan digital yang tujuannya baik untuk mengasah otak anak. "Game sekarang menawarkan beragam pengalaman, hal-hal yang orangtua mungkin tidak alami sebelumnya," kata peneliti Tanner Higgin, Ph.D., direktur strategi pendidikan untuk situs review game independen Common Sense Media.

Memang, hanya 43 persen orang dewasa yang bermain video game, menurut angka 2018 dari Pew Research Center, dibandingkan dengan 90 persen remaja.

Akibatnya, ibu dan ayah yang bermaksud baik sering mengarahkan anak-anak ke arah permainan yang mencerdaskan. Tapi itu ternyata jalan buntu digital, kata dokter anak perkembangan perilaku Dr. Jenny Radesky, seorang peneliti yang mengkhususkan diri dalam penggunaan media keluarga di University of Michigan.

"Banyak game yang diiklankan sebagai edukasi pada dasarnya hanya lembar kerja animasi," katanya, mengutip yang didorong oleh aktivitas seperti pencocokan, masalah matematika, dan pertanyaan trivia pilihan ganda. "Saya menyebut pengalaman loop tertutup ini - Anda melakukan satu hal, dan kemudian Anda mendapatkan confetti dan balon untuk memperbaikinya. Ini adalah konsep yang sangat hafal yang menyajikan pandangan [kasar] tentang apa itu pendidikan," tegasnya.

Higgin setuju. "Potensi belajar terbesar untuk permainan adalah ketika mereka tidak seperti bentuk pembelajaran tradisional itu," katanya. Dia lebih suka melihat anak-anak bermain game yang mendorong "pemikiran kreatif, konseptual," dengan alur cerita yang mendorong mereka untuk "terlibat dalam pilihan yang bermakna dan memiliki pengalaman yang berbeda setiap kali," paparnya.

Penanda halus lain dari game yang meningkatkan kekuatan otak termasuk kolaborasi peer-to-peer, tantangan yang memungkinkan untuk coba-coba, dan umpan balik real-time yang membantu anak-anak mencapai level berikutnya.

"Banyak game bagus namun sistemnya rumit; mereka seperti mesin digital yang bisa dimainkan anak-anak dan dipencet," kata Higgin.

Higgin menambahkan, dia memperkirakan hanya sekitar 40 persen dari game saat ini memenuhi kriteria ini untuk potensi belajar yang kuat. Jadi, sama seperti Anda berbicara dengan anak-anak Anda tentang film dan musik, tanyakan tentang kehidupan game mereka: Apa yang mereka sukai dari permainan itu? Bagaimana mereka menemukan solusi? Apakah mereka memiliki strategi dan bagaimana menerapkannya di sesi berikutnya? "

Anda ingin membuat anak-anak berpikir sedikit lebih dalam tentang apa yang mereka alami," kata Higgin. "Mereka akan sering mengejutkan Anda dengan cara mereka menafsirkan permainan dan apa yang mereka dapatkan dari game tersebut," ungkapnya.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip