0
Thumbs Up
Thumbs Down

Ingat Kasus Bayi 6 Bulan Diberi Obat Penenang saat Diajak Ngemis

okezone
okezone - Sun, 13 Jan 2019 07:00
Viewed: 467
Ingat Kasus Bayi 6 Bulan Diberi Obat Penenang saat Diajak Ngemis

KASUS eksploitasi anak masih menjadi perhatian utama Pemerintah Indonesia. Terlebih lagi setelah terkuaknya peristiwa pemberian obat penenang oleh sindikat di kawasan Blok M kepada bayi berumur enam bulan, pada 2016 lalu. Pelaku eksploitasi anak di bawah umur ini menggunakan obat jenis Riklona Clonazepam yaitu, sejenis obat penenang yang biasa digunakan untuk penderita depresi.

Menurut penuturan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kusmedi Priharto yang masih menjabat saat itu, efek dari obat penenang jenis Riklona Clonazepam ini sangat berbahaya jika diberikan kepada bayi. Dalam jangka panjang, obat ini berdampak pada perkembangan motorik.

BACA JUGA: Lepas Bulu Mata Palsu, Begini Penampilan Baru Syahrini

Sementara motif sang pelaku yang tega mencekoki obat penenang kepada bayi berinisial I itu digadang-gadang agar sang bayi tidak menangis, atau rewel saat sedang mengemis di jalanan.

"Dari pendataan dan pemeriksaan didapat satu korban bayi enam bulan, di mana pada saat praktik di jalan oleh orang yang membawa itu diberi obat penenang supaya bayinya tenang," tutur Kusmedi kepada Okezone.

Terkuaknya kasus pemberian obat penenang kepada anak di bawah umur ini juga mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari seorang Psikolog ternama Indonesia, Kasandra Putrantro.

Berdasarkan penjelasan Kasandra, obat penenang jenis Riklona Clonazepam sebetulnya tidak bisa sembarang dijual bebas di apotek maupun toko obat. Bahkan para ahli medis telah melakukan peraturan yang ketat, di mana obat itu hanya bisa diperoleh jika pasien sudah mendapat resep dokter.

"Semua obat psikiatri itu termasuk obat keras, ini obat psikiatri, dokter umum aja enggak boleh mengeluarkan obat ini," tegas Kasandra.

BACA JUGA: Awas, 4 Zodiak Ini Dikenal sebagai Tukang Ancam Orang

Lebih lanjut, Kasandra menjelaskan, efek obat penenang ini jika diberikan kepada orang dewasa memang akan memberikan rasa tenang, akan tetapi menimbulkan efek lemas karena langsung menjangkau pusat sarat. Namun jika diberikan kepada bayi, efeknya bisa merusak lambung maupun ginjalnya.

Menanggapi kasus tersebut, Kofifah Indar Parawansa selaku Menteri Sosial yang menjabat pada saat itu, meminta agar pihak kepolisian menjerat pelaku dengan aturan hukum yang berlaku.

"Memang harus dipenjara. Undang-Undangnya seperti itu. Jadi harus diproses hukum sesuai dengan aturan yang ada. Karena ini persoalan pelanggaran hukum," papar Kofifah kepada Okezone, saat ditemui di Kabupaten Jombang, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, peristiwa ini sudah melebihi kategori penelantaran anak, tetapi sudah memasuki kategori perdagangan anak. Ia pun berharap agar penegak hukum menindak tegas kedua orang tua anak-anak tersebut.

"Ini kategori perdagangan anak. Sehingga harus ada pemberian sanksi hukuman yang menjerakan. Supaya itu menjadi warning bagi orang tua lainnya. Semiskin apapapun lindungilah anak itu karena kewajiban melindungi anak adalah orang tua,'' terang Khofifah.

Dukungan penuh juga diberikan oleh Menteri Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise. Wanita yang akrab disapa Mama Yo itu mengaku sudah bekerjasama dengan kepolisian untuk menelusuri sindikat lain yang terkait dengan kasus ekploitasi anak.

Yohana juga sempat mendatangi langsung Rumah Perlindugnan Sosial Anak (RPSA) di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, untuk menemui tiga anak yang juga menjadi korban eksploitasi. Kala itu, bayi berusia 6 bulan inisial I tengah menjalani pemeriksaan kesehatan.

"Saya sangat menyayangkan, karena mereka masih memiliki masa depan yang cerah. Saya tadi bertanya kepada korban, ada yang ingin menjadi polwan ada juga yang ingin jadi pilot," kata Yohana.

Source: okezone
OUR PARTNERS
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip