0
Thumbs Up
Thumbs Down

Melihat Baayun Maulud, Budaya Maulid Nabi Masyarakat Banjar

okezone
okezone - Wed, 21 Nov 2018 21:01
Dilihat: 106
Melihat Baayun Maulud, Budaya Maulid Nabi Masyarakat Banjar

SUMATERA Utara terkenal dengan masyarakatnya yang terbuka. Tak heran, beragam budaya tumbuh bersama dengan kebudayaan asli masyarakat di daerah itu.

Seperti perayaan Baayun Maulud atau Baayun Mulud, perayaan khas masyarakat Banjar di Sumut dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meski masyarakat Banjar aslinya berasal dari Kalimantan Selatan, tapi perayaan mereka dapat berjalan khidmat dan ikut diramaikan masyarakat asli Sumut.

Di tahun 1440 Hijriah atau 2018 ini, pelaksanaan Baayun Maulud digelar di Lapangan Bola Jalan Karya Bakti, Dusun Kampung Lama Desa Tandam Hilir II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Selasa (20/11/2018).

Di lokasi acara, terlihat ratusan ayunan bergantungan cantik di atas lapangan bola tersebut. Ayunan-ayunan itu dihias dengan menggunakan kertas rumbai warna-warni, ataupun kain yang dibentuk pita.

"Total ada 111 ayunan. Semuanya dibuat dari kain jaring batik tersusun,"kata Tokoh Masyarakat Banjar- Hamparan Perak, Husni Laili.

Husni menceritakan, Baayun Maulue adalah traisi peninggalan nenek moyang suku banjar penganut kepercayaan Kaharingan. Tradisi ini bermula di Kabupaten Tapin dan menyebar ke seluruh Kalimantan Selatan.

Sebelum masuknya Islam, suku Dayak Kaharingan yang berdiam di Kampung Banua Halat melaksanakan upacara Aruh Ganal yang diikuti juga dengan prosesi Baayun. Upacara digelar sangat meriah. Karena bertepatan dengan masa panen padi.

Setelah Islam mulai berkembang Baayun mengalami asimilasi. Upacara dilaksanakan dengan nuansa Islam.

Di Sumatera Utara, acara Baayun dilaksanakan dengan para Banjar perantau. Kata tokoh adat setempat, ini sudah dilakukan turun temurun.

"Sejak jaman belanda, mula-mula orang orang Banjar yang merantau ke Tanah Deli, di Sumatera Utara. Setiap ada anak yang lahir di tepung tawar, diayun pada hari Maulid. Dalam agama disebut Tafaul atau optimis, mudah mudahan dapat berkah dari Allah SWT mudah mudahan dapat mengikuti ajaran Rasuluaalh. Sudah besar dididik dengan ajaran agama Islam,"terang Husni.

Jumlah 111 ayunan yang digunakan pada acara itu, disesuaikan dengan jumlah bayi yang akan diayunkan pada perayaan tersebut.

Setiap ayunan diisi seorang bayi dan didampingi kedua orangtuanya. Seorang tokoh adat mengarahkan acara. Memberikan aba-aba untuk mengayun anak.

Saat diayun, anak-anak juga diperdengarkan senandung pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Karena memang Baayun adalah bentuk pujian dan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad.

Sembari mengayun anak, para orangtua berebut bendera hiasan ayunan. Isinya berupa makanan ringan dan telur rebus.

Setelah berayun, para bayi kemudian digendong orangtua. Mereka kemudian berbaris dan ditepungtawari oleh tokoh agama. Anak-anak juga mendapat Alquran sebagai hadiah.

"Ini sudah tiga kali saya ikut Baayun. Harapannya semoga anak sehat selalu, semoga anak murah rezeki tidak melawan pada orang tua, menurut ajaran nabi Muhammad. Semoga tahun depan lebih meriah lagi," ujar Siti Khadijah (38) salah satu orangtua yang ikut prosesi Baayun.

Baayun di hamparan Perak terus dilestarikan. Kegiatannya juga rutin setiap tahun. Tepatnya ketika Maulid Nabi.

Acara baayun di sana tidak hanya diikuti oleh suku Banjar. Banyak etnis dari suku lainnya yang juga turut serta. Selain untuk anak, Baayun juga mengingatkan pada pentingnya silaturahmi dalam kehidupan.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip