0
Thumbs Up
Thumbs Down

Ingin Nikah di Bawah Umur? Pikir-Pikir Dulu Sebelum Terkena Dampaknya!

okezone
okezone - Mon, 15 Oct 2018 22:30
Dilihat: 176

SEKIRA 1.000 anak perempuan menikah setiap hari di Indonesia. Bukan hanya dampak psikologis, perkawinan anak berimplikasi pada gangguan kesehatan, terhentinya pendidikan, hingga kurangnya kesejahteraan.

Padahal, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyatakan bahwa usia ideal untuk menikah adalah 21 tahun, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Disebutkan, menurut Ayat (2) Pasal 6 Undang-Undang Perkawinan, seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat izin dari kedua orang tuanya. Definisi anak itu sendiri sudah jelas disebutkan dalam UU, yakni seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Baca juga: Intip Dukungan Pemerintah Swiss untuk Pariwisata Lombok, Salah Satunya Keterampilan!

Menteri PP dan PA Yohana Yembise memaparkan, perkawinan anak sangatlah merugikan kepentingan dan kesehatan anak. "Dalam usianya, anakanak masih berada dalam proses tumbuh kembang yang belum optimal. Begitu pula dengan organ reproduksinya," kata Yohana.

Hasil kajian dari penelitian di Kanada dan Indonesia mengungkapkan bahwa usia rahim prima secara fisik berada pada usia di atas 20 tahun dan kurang dari 35 tahun. Tingginya angka perkawinan anak ini juga berkaitan erat dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI).

Itu karena kehamilan pada usia anak mempunyai risiko medis yang cukup tinggi. Penyebabnya, alat reproduksi yang belum cukup matang untuk melakukan fungsinya. "Indonesia sendiri telah menempati posisi yang paling tinggi AKI dan angka kematian bayi (AKB)-nya jika dibandingkan dengan negaranegara ASEAN lainnya," kata Yohana.

Baca juga: Diklaim Miss Grand International Malaysia? Ini Asal Usul dan Makna Motif Batik Parang

Ada beberapa penyebab yang mendorong terjadinya perkawinan anak di Indonesia, seperti pendidikan, budaya, dan status ekonomi. Secara global, kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun.

"Ancaman kesehatan yang berakibat fatal ini terjadi karena remaja perempuan di bawah usia 18 tahun belum memiliki kesiapan fisik yang prima, baik dari stamina jantung, tekanan darah, maupun organ reproduksinya," sebut dokter spesialis obstetri ginekologi Dr dr Julianto Witjaksono SpOG (KFER) MGO.

Selain berdampak buruk bagi anak perempuan, perkawinan anak juga berdampak buruk bagi masyarakat dan pemerintah. Perkawinan anak dapat menyebabkan siklus kemiskinan yang berkelanjutan, peningkatan buta huruf, kesehatan yang buruk kepada generasi yang akan datang, dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca juga: Potret Foto Keluarga Pernikahan Putri Eugenie, Ahli Bahasa Tubuh Ungkap Sesuatu Rahasia di Kerajaan Inggris!

Jika perkawinan anak terus berlanjut, maka akan berpengaruh pada bonus demografi usia produktif sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan sosial dan ekonomi.

Bonus demografi usia produktif di Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas mencapai 70%. Hal ini dapat mempercepat roda pertumbuhan ekonomi saat generasi muda memiliki kualitas yang baik- secara pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan.

"Untuk itu, peran serta berbagai pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, organisasi serta anak itu sendiri memiliki peranan penting dalam mencegah terjadinya perkawinan anak," ujar Rohika Kurniadi, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan, Keluarga, dan Lingkungan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Baca juga: Terungkap Kebiasaan Traveler Indonesia Sebelum Memesan Hotel, Lihat Review Dulu!

Sementara itu, Fatimah Huurin Jannah atau yang akrab disapa Faza, remaja penggiat pencegahan perkawinan anak, mengatakan pentingnya remaja berteman dengan remaja yang rentan menikah di bawah umur.

"Kita bisa menjadi teman curhat, mendukung keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah setinggi mungkin sehingga tidak terpikir di"benak mereka untuk menikah di bawah umur," kata Faza. Terkadang, menurut dia, remaja tidak berpikir secara matang.

Bagi mereka, menikah itu gampang dan menyenangkan, tanpa tahu dampak yang akan dihadapi setelahnya. "Peran kita sebagai teman curhat dapat mengajak mereka untuk merencanakan dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik," pungkas Faza.

Menurunkan angka perkawinan anak memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Dibutuhkan komitmen penuh pemerintah bersama masyarakat, media, dunia usaha, dan keluarga terutama para orang tua, dalam upaya besar memenuhi hak dan perlindungan bagi anak.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip