0
Thumbs Up
Thumbs Down

Benarkah Gula Berbahaya bagi Tubuh?

okezone
okezone - Fri, 21 Sep 2018 22:00
Dilihat: 454
Benarkah Gula Berbahaya bagi Tubuh?

KANDUNGAN gula dalam makanan sering diperhatikan seseorang sebelum menyantapnya. Begitu pun dengan minuman, sebab makanan dan minuman yang mengandung banyak gula bisa membuat seseorang rentan mengidap diabetes, ginjal, dan kanker.

Sekitar 80 ribu tahun lalu, manusia pemburu dan peramu terkadang atau tidak selalu makan buah karena mereka harus berebut dengan burung. Kini gula tersedia sepanjang tahun, seringkali dengan nutrisi yang lebih rendah, dan bisa didapat dengan mudah, semudah membuka minuman ringan atau kotak sereal.

Tak perlu jadi seorang ahli untuk tahu bahwa asupan gula kita tidak lagi sesehat masa berburu dan meramu. Kini, gula sudah menjadi musuh bersama kesehatan umum: pemerintah memberi pajak, sekolah dan rumah sakit tak menyediakannya, dan para ahli menyarankan agar menghindari makan gula sama sekali.

Tapi sejauh ini para peneliti kesulitan membuktikan bagaimana gula memengaruhi kesehatan kita. Muncul juga pendapat bahwa menghindari satu jenis makanan saja adalah berbahaya, dan bisa membingungkan badan, yang berisiko kekurangan nutrisi penting.

Gula, yang juga disebut sebagai 'pemanis tambahan', termasuk gula pasir, pemanis, madu dan jus buah, diolah dan ditambahkan pada makanan dan minuman untuk meningkatkan rasa.

Tapi gula adalah nama umum dua karbohidrat, yang kompleks dan simpel. Keduanya dicerna di dalam tubuh menjadi glukosa dan digunakan oleh seluruh sel dalam tubuh untuk menghasilkan energi yang juga menjadi bahan bakar otak.

(Baca Juga:Pesan Avocado Toast Seharga Rp266 ribu, Wanita Ini Marah saat Makanan Datang)

Karbohidrat yang rumit termasuk gandum dan sayuran

Karbohidrat simpel lebih mudah dicernah dan lebih cepat dilepaskan ke aliran darah. Ini termasuk gula yang secara alami ada di dalam makanan yang kita santap, seperti fruktosa, laktosa, glukosa dan lainnya, seperti sirup jagung fruktosa tinggi buatan manusia.

Sebelum abad ke-16, hanya orang kaya yang mampu membeli gula. Kemudian gula menjadi lebih mudah diakses akibat perdagangan masa kolonial.

Pada dekade 1960-an, industri skala besar mengubah glukosa menjadi fruktosa dan berujung pada penciptaan sirup jagung tinggi fruktosa, saripati glukosa dan fruktosa.

Gabungan maut ini, ada di atas segala jenis gula, dianggap oleh banyak ahli kesehatan sebagai jenis gula paling berbahaya. Inilah yang dipikirkan oleh banyak orang ketika mereka menyebut 'gula'.

Kambing hitam aneka masalah

Konsumsi sirup jagung tinggi fruktosa di AS meningkat sepuluh kali lipat antara 1970-1990, lebih dari semua jenis makanan lainnya.

Peneliti menyebut ini terjadi seiring meningkatnya obesitas di negara itu. Mungkin ini disebabkan karena sirup jagung tinggi fruktosa, tidak seperti makanan lain, tidak memicu munculnya leptin, hormon yang membuat kita merasa kenyang.

Sementara, minuman manis, yang biasanya menggunakan sirup jagung tinggi fruktosa, menjadi sumber utama riset untuk mengukur pengaruh gula pada kesehatan kita.

Satu analisa dari 88 penelitian menemukan hubungan antara konsumsi minuman manis dan berat badan. Artinya, orang yang sudah mendapatkan energi dari minuman ringan tidak melakukan kompensasi dengan menyantap lebih sedikit makanan lain.

Barangkali karena minuman ini meningkatkan rasa lapar atau mengurangi rasa kenyang.

Namun para peneliti menyimpulkan, meskipun asupan minuman ringan dan gula tambahan meningkat seiring dengan obesitas di AS, data tersebut hanya menunjukkan korelasi yang luas.

Dan tidak semua orang setuju bahwa sirup jagung fruktosa tinggi adalah faktor pendorong dalam krisis obesitas. Beberapa ahli menunjukkan, konsumsi gula telah menurun selama 10 tahun terakhir di beberapa negara termasuk AS, bahkan ketika tingkat obesitas meningkat.

Ada juga epidemi obesitas dan diabetes di daerah yang hanya ada sedikit atau tidak ada sirup jagung tinggi fruktosa, seperti Australia dan Eropa.

Sirup jagung tinggi fruktosa bukan satu-satunya jenis gula yang dianggap bermasalah. Tambahan gula, khususnya fruktosa, dianggap sebagai kambing hitam beraneka masalah.

Salah satunya adalah jadi penyebab penyakit jantung. Ketika fruktosa diurai oleh hati, salah satu hasil akhirnya adalah triglyserida, sejenis lemak, yang lama kelamaan bisa menumpuk di sel hati.

Ketika dilepaskan ke aliran darah, lemak ini bisa berkontribusi menyumbat dinding arteri.

Satu penelitian 15 tahun nampaknya mendukung hal ini: orang yang mengkonsumsi gula tambahan hingga 25% atau lebih dari kalori harian mereka, akan dua kali lipat lebih mungkin untuk meninggal akibat penyakit jantung dibandingkan mereka yang mengonsumsi gula kurang dari 10%.

Diabetes tipe 2 juga dikaitkan dengan asupan gula tambahan. Dua penelitian besar pada 1990-an menemukan bahwa perempuan yang mengkonsumsi lebih dari satu minuman ringan atau jus buah per hari, dua kali lipat lebih mungkin terkena diabetes dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip