Anak Alami Trauma karena Demo, Bagaimana Cara Mengatasinya?

okezone
okezone - Thu, 23 May 2019 23:00
Viewed: 399
Anak Alami Trauma karena Demo, Bagaimana Cara Mengatasinya?

AKSI demo 22 Mei yang berujung pada kericuhan mungkin membuat sejumlah orang merasa trauma. Hal-hal yang dialami seperti panik, khawatir, cemas, takut, dan perasaan buruk lainnya.

Namun perlu diingat, perasaan-perasaan seperti itu bisa saja bukan hanya terjadi pada orang dewasa. Tidak menutup kemungkinan anak akan mengalami trauma yang sama.

Peristiwa tentang kericuhan atau aksi demo 22 Mei belakangan ini mungkin membuat anak mengalami trauma karena sebelumnya tidak pernah melihat kerumunan massa dalam jumlah besar saling berteriak dan melempar.

Dijelaskan oleh psikolog anak, Ayoe Sutomo, saat mengalami trauma, biasanya terjadi perubahan perilaku pada anak. Dalam hal ini yang berkaitan dengan demo, anak yang tadinya berani untuk pergi sendiri bisa jadi merasa takut. Dirinya meminta untuk ditemani oleh orang dewasa ketika hendak pergi ke suatu tempat karena merasa ada sesuatu yang tidak aman. Bila sudah begitu, maka ada langkah-langkah yang harus diambil oleh orangtua.

Pertama, orangtua perlu menyampaikan kepada anak jika kondisi di luar anak. Apabila anak mengalami trauma karena demo, berikan informasi tambahan kalau aksi tersebut dijaga oleh polisi atau petugas keamanan. Kedua, orangtua perlu melindungi perasaan aman anak sehingga ketakutan yang dialaminya tidak mengganggu keseharian.

"Orangtua perlu melihat sejauh mana trauma yang dialami anak, caranya bisa ajak obrol, ajak main, biarkan anak releasing emosi dan menerimanya. Jangan malah dibilang 'Masa gitu saja takut' karena bagaimanapun anak baru mengalaminya pertama kali," ujar Ayoe sewaktu Okezone hubungi melalui sambungan telepon, Kamis (23/5/2019).

Untuk melindungi perasaan aman anak, orangtua bisa menanyakan hal apa yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Selanjutnya, orangtua bisa melakukan permintaan anak agar mereka bisa menerima peristiwa yang dialaminya serta menghilangkan rasa trauma.

Langkah-langkah tersebut harus segera dilakukan oleh orangtua setelah peristiwa yang membuatnya trauma kembali terjadi. "Kalau kelihatannya anak sulit mengekspresikan atau mengungkapkan perasaannya, mungkin butuh bantuan profesional guna mencari sumber trauma anak dan menyembuhkannya," tandas Ayoe.